www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
Harga TBS Sawit Mitra Swadaya Riau Turun Rp10,36 per Kg, CPO Jadi Pemicu
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Dari Singkong hingga Bank Sampah: Energi Inovasi dari Lambang Sari V
Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:29:27 WIB
Dukungan Pertamina EP Lirik bersama KWT Melati.(foto: andi/halloriau.com)
Dukungan Pertamina EP Lirik bersama KWT Melati.(foto: andi/halloriau.com)

Oleh: Andy Indrayanto

"Horreee...!"

Sorak kegembiraan itu pecah dari mulut ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di lahan Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Dua orang di antara mereka baru saja berhasil mencabut tanaman singkong dari kebun desa.

Langit Inhu yang cerah siang itu seolah ikut larut dalam kegembiraan mereka. Ibu-ibu lainnya menyusul, menarik batang demi batang tanaman dari hamparan lahan, kemudian mengumpulkan umbi yang tersembunyi di dalam tanah.

Panen tersebut bukan sekadar urusan mencabut tanaman dan mengumpulkan hasil kebun. Singkong menyimpan peluang untuk menghasilkan nilai tambah. Umbi yang semula dijual mentah dengan harga relatif murah kini diolah menjadi keripik, produk pangan yang perlahan berkembang menjadi usaha kelompok.

Sri Wiji Rahayuningsih (59), yang akrab disapa Yayuk, mengenang bagaimana usaha itu bermula dari persoalan sederhana. Hasil panen yang dijual mentah belum memberikan nilai ekonomi seperti yang mereka harapkan.

Sebelum mengolah singkong menjadi keripik dengan berbagai varian rasa, ibu-ibu KWT Melati lebih dahulu memanfaatkan lahan desa seluas satu hektare untuk menanam berbagai tanaman yang dapat menopang kebutuhan rumah tangga.

"Ya, minimal cabai dan tanaman bumbu-bumbu memasak tidak usah beli lagi," Yayuk tertawa kecil.

KWT Melati berdiri pada Juni 2022 dan disahkan melalui surat keputusan kepala desa. Kelompok ini mendapat pinjaman lahan milik desa untuk kegiatan pertanian.

"Kami dipinjamkan kebun milik desa. Mulanya kami diberi 50 karung kotoran ayam dan kita olah sendiri jadi kompos. Baunya itu luar biasa," cerita ibu empat anak tersebut. 

Perjalanan mereka tidak selalu mudah. Tanaman cabai yang ditanam di kebun suatu hari diserbu monyet liar yang datang ke permukiman warga.

"Ngenes rasanya saat itu, Pak," kenang Yayuk dengan logat Jawa yang masih kental.

Kegagalan itu tidak memadamkan semangat anggota kelompok. Setelah mengevaluasi kondisi kebun dan menerima masukan dari pemerintah desa serta Pertamina, mereka memutuskan menanam singkong sebagai komoditas utama.

"Awalnya, tanaman ubi itu kami jual mentah, namun hasilnya tak seberapa. Tahu lah harga ubi mentah berapa, paling Rp30 ribu sampai Rp40 ribu, terus kemudian kami iseng-iseng buat keripik, atas saran dari Pemdes dan Pertamina itu," kenang Yayuk saat ditemui penulis pada pertengahan Oktober 2026.

Berawal dari keisengan, kegiatan tersebut berkembang menjadi usaha produktif. Dengan bantuan penyuluh pertanian lapangan (PPL), KWT Melati mengajukan proposal bantuan peralatan kepada dinas terkait. Setelah melalui proses survei, permohonan itu disetujui.

Kini, sebanyak 13 anggota KWT Melati terlibat dalam produksi keripik. Dalam sebulan, mereka melakukan produksi dua hingga tiga kali, dengan kebutuhan sekitar 100 kilogram singkong setiap kali produksi.

Bagi Yayuk, kegiatan tersebut bukan semata-mata menghasilkan makanan ringan. Ada tambahan pendapatan yang mulai dirasakan anggota, meskipun nilainya belum besar.

"Yang jelas menambah pendapatan, bantu-bantu suami walaupun sedikit," ujarnya.

Menurut Yayuk, keuntungan bersih usaha berkisar 10 hingga 20 persen, sedangkan omzet mencapai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Sebagian keuntungan dibagikan kepada anggota, sementara sebagian lainnya disisihkan sebagai tabungan kelompok.

Cara kerja mereka bertumpu pada kebersamaan. Para anggota saling membantu dalam proses produksi dan menikmati hasilnya bersama. Sebagian di antara mereka juga memiliki tanggung jawab lain sebagai kader posyandu maupun pengurus PKK sehingga jadwal produksi harus menyesuaikan waktu yang tersedia.

Dari usaha sederhana itu, anggota KWT Melati mulai belajar bahwa hasil pertanian tidak harus berhenti sebagai komoditas mentah. Dengan pengolahan dan pengelolaan usaha yang lebih baik, potensi lokal dapat membuka peluang ekonomi baru.

(Manajer Pertamina Hulu Energi Field Lirik, Lukman Arif (kemeja hitam), secara simbolis memberikan bantuan alat saat launching Bank Sampah Delima di Aula Desa Lambangsari V, Lirik/foto-Andy)

Ketika Potensi Lokal Mendapat Ruang untuk Tumbuh
Perjalanan usaha KWT Melati tidak berlangsung sendirian. Sejak akhir 2023, Pertamina EP Lirik mulai mendampingi kelompok tersebut melalui program pemberdayaan masyarakat. Dukungan itu kemudian berkembang seiring dengan penguatan Program Kampung Iklim (ProKlim) Lambang Sari V pada 2024.

Community Development Officer (CDO) Pertamina EP Lirik, Dela Ayu Puspita Dewi, menjelaskan bahwa pengembangan ProKlim berawal dari permintaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Inhu untuk mencari desa yang berpotensi menjadi lokasi program.

Berdasarkan pemetaan sosial dan informasi dari CDO sebelumnya, perhatian kemudian tertuju pada KWT Melati. Kelompok ini dinilai aktif dalam kegiatan pertanian dan memiliki semangat untuk mengembangkan potensi yang tersedia di lingkungan mereka.

Pertamina selanjutnya memberikan dukungan sesuai dengan kebutuhan kelompok. Bantuan tersebut mencakup peralatan pertanian dan produksi, 750 kemasan awal untuk produk keripik, serta pendampingan promosi, pemasaran, dan pembukuan keuangan.

Mengolah singkong menjadi keripik ternyata belum cukup. Produk juga membutuhkan kemasan yang layak, promosi yang tepat, serta pencatatan keuangan agar perkembangan usaha dapat diketahui.

Sebelum mendapat pendampingan, keripik hanya dijual dalam kemasan sederhana seharga Rp1.000 per bungkus. Produk dikemas menggunakan plastik putih sederhana, sementara kondisi keripik masih berminyak. 

Setelah mendapat pendampingan, KWT Melati mulai menggunakan kemasan yang lebih menarik dan memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen. Kini, keripik dengan merek "Keripik Ubi Buatan Ibu" dipasarkan dalam dua ukuran. Kemasan 200 gram dijual Rp18.000, sedangkan kemasan 500 gram dibanderol Rp35.000.

Menurut Yayuk, perubahan kemasan dan upaya promosi turut membantu penjualan. Produk mereka bahkan telah dibawa ke luar kota sebagai oleh-oleh, meskipun pemasaran secara mandiri ke luar daerah masih perlu dikembangkan.

Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian kemasan. Anggota kelompok mulai mengenal pentingnya menjaga kualitas produk, menentukan harga, mencatat keuangan, dan menjangkau pasar.

Pendampingan juga dilakukan melalui pertemuan dan kegiatan bersama masyarakat. Menurut data pendampingan yang disampaikan Dela, kegiatan bersama warga rata-rata berlangsung sekitar empat kali dalam sebulan. Intensitas tersebut menjadi bagian dari proses mengenali kebutuhan, memberikan penguatan, dan mendorong penerapan pengetahuan yang diperoleh.

Meski begitu, sambungnya, pendampingan tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan usaha. KWT Melati masih perlu menjaga mutu produk, menyesuaikan jadwal produksi dengan kesibukan anggota, serta memperluas pemasaran secara bertahap.

Namun adanya dukungan perusahaan membuka ruang bagi potensi lokal untuk berkembang. Artinya, usaha tersebut tetap membutuhkan keterlibatan anggota dan kemampuan mengelola kegiatan agar manfaatnya dapat bertahan.

Dari Persoalan Sampah Menuju Ekonomi Sirkular

Di Lambang Sari V, upaya pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan usaha keripik singkong. Persoalan lingkungan juga menjadi bagian dari kegiatan yang dikembangkan melalui ProKlim.

Yayuk mengakui, sebelum mendapatkan pendampingan, pengelolaan sampah di lingkungan mereka belum berjalan maksimal. Sampah dikumpulkan, tetapi sebagian masih ditumpuk, dibakar, atau dibuang tanpa pemilahan yang memadai.

"Dulu apa yang kami lakukan terkait sampah ini belum begitu terarah maksimal. Sampah memang dikumpulkan di tempat sampah, tapi untuk mendaur ulang sampah menjadi cuan, ilmu itu yang belum kami dapat," kata Yayuk.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan menyediakan tempat pembuangan. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan tentang pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah agar kebiasaan lama dapat berubah.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Inhu, Elpadri Adha, persoalan lingkungan di Lambang Sari V bukan hanya berkaitan dengan sampah rumah tangga. Desa tersebut juga menghadapi genangan air pada musim hujan dan kekeringan ketika kemarau.

Dukungan Pertamina EP Lirik mencakup bantuan mesin biopori untuk membantu mengatasi genangan serta mesin komposter untuk mendukung pengolahan sampah organik. Kegiatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga menjadi bagian dari penguatan kepedulian lingkungan.

Elpadri menyebut genangan air mulai berkurang setelah bantuan biopori diberikan. Namun, besarnya perubahan tersebut masih perlu dibuktikan dengan data pembanding yang menunjukkan kondisi sebelum dan sesudah kegiatan.

Sementara itu, Dela menjelaskan bahwa ProKlim Lambang Sari V telah berjalan sejak 2024. Meski demikian, pada tahap awal pelaksanaannya, program tersebut belum memberikan pengaruh signifikan terhadap jumlah warga yang terlibat.

(Ketua KWT Melati, Sri Wiji Rahayuningsih, beserta ibu-ibu KWT Melati lainnya saat menunjukkan hasil panen ubi/foto-Andy)

Di tahun 2026, mulai muncul upaya pemerintah desa untuk memperkuat pengelolaan sampah melalui peraturan desa (Perdes). Kebijakan tersebut diharapkan menjadi salah satu landasan agar pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pelatihan atau kegiatan kelompok, tetapi juga menjadi bagian dari tata kelola desa.  

Dela mengatakan, Pertamina EP Field Lirik melakukan pencatatan untuk menghitung capaian dan dampak program pemberdayaan masyarakat, termasuk kontribusinya terhadap pengelolaan sampah dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Berdasarkan data Pertamina EP Lirik, selama Januari hingga September 2026, pengolahan sampah organik melalui 25 lubang biopori pada sampel 25 kepala keluarga (KK) tercatat mampu mengelola 654,60 kilogram limbah domestik. Aktivitas tersebut juga tercatat berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 123,98 kilogram setara karbon dioksida (CO₂e).       

"Dalam menjalankan Program Pemberdayaan Masyarakat, Pertamina EP Lirik Field selalu menghitung outcome dari program tersebut. Berdasarkan data yang ada, pelaksanaan ProKlim di Desa Lambang Sari V menorehkan hasil positif," ujar Dela.

Menurutnya, pengelolaan sampah organik melalui biopori menjadi salah satu langkah nyata untuk mengurangi emisi dari sektor limbah rumah tangga. Upaya tersebut sejalan dengan peta jalan mitigasi Program Kampung Iklim (ProKlim) yang dikembangkan bersama dinas terkait.

Desa Lambang Sari V sendiri menargetkan pencapaian kategori ProKlim Utama. Untuk menuju target tersebut, penguatan kegiatan lingkungan perlu diikuti konsistensi pelaksanaan, perluasan partisipasi warga, serta pencatatan capaian program secara berkelanjutan.

Untuk memperkuat pemahaman warga, Pertamina EP Lirik mengadakan sejumlah kegiatan, antara lain pelatihan ekoenzim, perkebunan, biopori, dan pengelolaan bank sampah. Pada akhir 2025, masyarakat mendapatkan pelatihan bank sampah dengan menghadirkan narasumber dari Pekanbaru. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan kunjungan belajar ke Bank Sampah Ibnu Al-Mubarok, binaan PHR di Rumbai, sekitar Maret 2026.

Melalui kegiatan itu, warga memperoleh pengetahuan mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah serta mengenal potensi ekonomi dari material yang masih dapat dimanfaatkan. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk mengembangkan Bank Sampah Delima melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR) Pertamina EP Lirik.

Kehadiran Bank Sampah Delima diharapkan memperluas edukasi lingkungan dan mendorong keterlibatan warga di luar kelompok yang selama ini aktif. Sampah anorganik yang dipilah berpotensi memiliki nilai jual, sedangkan sampah organik dapat dimanfaatkan melalui pengomposan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Dengan pendekatan ini, sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai limbah. Sebagian material dapat dimanfaatkan kembali, sementara pengurangan pembakaran dan pembuangan yang tidak tepat berpotensi memberi manfaat bagi lingkungan.  

Kepala Desa Lambang Sari V, Safrizal, mengatakan pemerintah desa berencana mendorong pembuatan lubang biopori di setiap rumah. Pemerintah desa juga ingin mengembangkan pemanfaatan sampah plastik agar memiliki nilai ekonomi.

"Kami ingin sampah plastik nantinya bisa menjadi sumber penghasilan bagi setiap keluarga," kata Safrizal.

Rencana tersebut membuka peluang untuk memperluas partisipasi masyarakat, dimulai dari lingkungan rumah tangga. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada pelaksanaan, keterlibatan warga, dan konsistensi pengelolaan setelah kegiatan pendampingan berlangsung.

Elpadri menilai keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam pengembangan ProKlim. "Menurut saya, justru hal yang terpenting bukan sekadar menghadirkan kegiatan lingkungan, tapi memastikan masyarakat berperan aktif dan dapat manfaat dari program itu," ujarnya.

Dengan kata lain, keberhasilan program lingkungan tidak cukup dinilai dari jumlah sarana yang diberikan atau pelatihan yang diselenggarakan. Perubahan perilaku dan kemampuan warga menjalankan kegiatan secara berkelanjutan juga perlu menjadi perhatian.

Inovasi yang Berangkat dari Kebutuhan Warga
Kisah KWT Melati dan pengembangan Bank Sampah Delima memperlihatkan persoalan berbeda namun keduanya memiliki benang merah: potensi di sekitar masyarakat yang belum dimanfaatkan secara optimal. 

Bagi KWT Melati, persoalannya bermula dari hasil panen singkong yang dijual mentah dengan nilai ekonomi terbatas. Melalui pengolahan menjadi keripik, kelompok ini mulai mengenal peluang usaha, pengemasan produk, pemasaran, hingga pembukuan keuangan.

Sementara dalam pengelolaan lingkungan, warga menghadapi persoalan sampah yang selama ini masih ditumpuk, dibakar, atau dibuang tanpa pemilahan yang memadai. Pelatihan dan pengembangan Bank Sampah Delima membuka peluang untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Pendampingan Pertamina EP Lirik menjadi salah satu unsur yang mendukung proses tersebut. Bantuan peralatan, pelatihan, dan penguatan kapasitas memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus mempelajari cara mengelolanya.

Dela menjelaskan, perusahaan menggunakan indikator Kompas Sustainability yang mencakup empat aspek, yakni Nature, Economy, Wellbeing, dan Society. Keempat aspek tersebut menjadi kerangka untuk melihat program secara lebih menyeluruh, mulai dari manfaat bagi lingkungan, ekonomi, kesejahteraan, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Dalam konteks Lambang Sari V, manfaat ekonomi mulai terlihat melalui usaha Keripik Ubi Buatan Ibu yang memberikan tambahan pendapatan bagi anggota KWT Melati. Sementara dalam pengelolaan lingkungan, Bank Sampah Delima diharapkan membuka peluang pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai jual sekaligus mendorong kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga.

Sedangkan dari sisi partisipasi, Dela mengakui bahwa program yang berjalan sejak 2024 ini  belum memberikan pengaruh signifikan terhadap jumlah warga yang terlibat. Karena itu, perluasan keterlibatan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah, bersamaan dengan penguatan pengelolaan bank sampah dan pencatatan hasil kegiatan.

Sisi lain, Dela menilai kelompok masyarakat di Lambang Sari V mulai mampu mengembangkan kegiatan secara mandiri. Sejumlah kegiatan yang dilakukan bersama PKK desa antara lain pembuatan ecobrick, ecoprint pada tumbler, dan kegiatan terkait biopori.

Kemampuan mengembangkan kegiatan tanpa selalu menunggu arahan pendamping menjadi perkembangan yang patut diperhatikan. Kolaborasi dengan PKK juga membuka peluang agar pengetahuan dan praktik pengelolaan lingkungan menyebar ke kelompok masyarakat yang lebih luas.

Namun, kemandirian tidak cukup diukur dari kemampuan menyelenggarakan kegiatan. Keberlanjutan juga bergantung pada kemampuan kelompok merencanakan program, mengelola sumber daya, mencatat hasil, dan mempertahankan partisipasi anggotanya.

Bagi Dela, konsistensi anggota kelompok merupakan pelajaran terpenting dari pelaksanaan program. Kegiatan perlu dijalankan secara teratur agar manfaatnya tidak berhenti setelah pelatihan atau bantuan diberikan. 

Pengalaman KWT Melati memberikan gambaran tentang pentingnya konsistensi tersebut. Kelompok ini terus menjalankan usaha keripik dengan menyesuaikan jadwal produksi terhadap kesibukan anggota. Sebagian keuntungan juga disisihkan sebagai tabungan bersama.

Sementara itu, pengembangan ProKlim Lambang Sari V masih membutuhkan penguatan operasional Bank Sampah Delima, pemilahan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan biopori. Kemampuan kelompok membuat kegiatan secara mandiri merupakan modal awal, tetapi dampak lingkungan yang dihasilkan tetap perlu dicatat dan dievaluasi.

Pertamina EP Field Lirik berharap model ProKlim Lambang Sari V dapat direplikasi ke wilayah lain. Harapan tersebut membuka peluang agar pengalaman yang dikembangkan di desa ini menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat di tempat lain.

Namun, replikasi tidak cukup dilakukan dengan menyalin bentuk kegiatan atau memberikan sarana yang sama. Setiap desa memiliki persoalan lingkungan, karakter masyarakat, dan potensi ekonomi yang berbeda. Pengalaman Lambang Sari V karena itu lebih tepat menjadi bahan pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Dari Tabungan Keripik, Sebuah Mimpi Terwujud

Bagi Yayuk dan anggota KWT Melati lainnya, pergi bersama ke Yogyakarta mungkin pernah menjadi keinginan yang hanya tersimpan dalam angan-angan. Hari-hari mereka selama ini lebih banyak dihabiskan di kebun, bergelut dengan tanah, tanaman, dan pupuk untuk mengembangkan usaha kelompok. 

Namun, kerja bersama perlahan membuka kesempatan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Pada 17 Oktober 2026, Yayuk bersama sembilan anggota KWT Melati lainnya berangkat ke Yogyakarta. Sepuluh orang itu menikmati perjalanan bersama setelah menjalani rutinitas berkebun dan memproduksi keripik singkong.

Ketika ditanya apakah pernah membayangkan bisa pergi bersama anggota KWT ke Yogyakarta, Yayuk menjawab melalui pesan WhatsApp. "Gak pernah, Pak, membayangkan saja tidak tapi memimpikan ke Yogya iya."

Kebahagiaan itu rupanya sulit diungkapkan dengan kata-kata. "Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Pak," tulisnya sambil menyertakan emoticon tertawa.

Selama di Yogyakarta, mereka menikmati waktu bersama dan mengunjungi sejumlah tempat wisata. Perjalanan tersebut terutama menjadi kesempatan untuk beristirahat dan menyegarkan pikiran, bukan kegiatan studi banding yang secara khusus dirancang untuk mempelajari teknologi atau metode baru bagi KWT Melati.

Yang membuat perjalanan itu terasa istimewa adalah sumber pembiayaannya. Sebagian biaya berasal dari tabungan keuntungan penjualan keripik singkong, sedangkan sisanya ditambah oleh para peserta.

Bagi Yayuk, perjalanan tersebut bukan semata-mata kesempatan mengunjungi kota yang diimpikannya. Ada kebahagiaan karena usaha yang dijalankan bersama anggota kelompok mulai menghasilkan sesuatu yang dapat mereka nikmati bersama.

"Semua ibu-ibu anggota KWT merasa bersyukur bisa bergabung dengan KWT. Yang selama ini selalu bergelut dengan tanah, pupuk yang bau, sekarang alhamdulillah tinggal menikmati hasilnya berkat kerja sama dan dukungan dari semua pihak, terutama dari pemerintah desa dan CSR Pertamina. Ini hasil tabungan kami jualan keripik selama ini," ungkapnya.

Pengalaman itu memperlihatkan sisi pemberdayaan yang tidak selalu tercermin dalam angka omzet atau jumlah bantuan. Ada kepuasan ketika usaha bersama memberikan kesempatan kepada anggota untuk mewujudkan keinginan yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

(Ibu-ibu KWT Melati binaan Pertamina EP Field Lirik tengah memasarkan Keripik Ubi Buatan Ibu dalam suatu bazar peringatan HUT RI ke-80/foto-Andy)

Perjalanan ke Yogyakarta tentu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan KWT Melati. Namun, penggunaan tabungan hasil usaha untuk membiayai perjalanan bersama menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi kelompok mulai memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh anggotanya.

Bagi mereka, hasil kerja bersama bukan hanya tambahan pendapatan. Kesempatan menikmati hasil usaha, menjaga kebersamaan, dan menyisihkan keuntungan untuk tujuan bersama juga menjadi bagian dari manfaat yang mereka bangun.

Meski demikian, perjalanan menuju kemandirian masih panjang. KWT Melati perlu menjaga kualitas keripik, memperluas pemasaran, dan mengelola keuangan dengan lebih teratur. Kesibukan anggota sebagai kader posyandu dan pengurus PKK juga menuntut pembagian waktu yang baik agar produksi tetap berjalan.

Tantangan serupa terdapat dalam pengembangan ProKlim Lambang Sari V. Bank Sampah Delima, pemilahan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan biopori membutuhkan keterlibatan warga serta pengelolaan yang konsisten. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendampingan perlu diterapkan agar kegiatan lingkungan tidak berhenti pada tahap pelatihan.

Upaya pemerintah desa memperkuat aturan pengelolaan sampah dapat menjadi salah satu peluang untuk mendukung keberlanjutan program. Namun, pelaksanaannya perlu diikuti perluasan partisipasi warga dan pencatatan capaian lingkungan agar perubahan yang diharapkan dapat dinilai.

Dari kebun singkong hingga perjalanan ke Yogyakarta, kisah Yayuk dan KWT Melati memperlihatkan bagaimana usaha sederhana dapat membuka peluang ekonomi sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang menjalankannya.

Sementara itu, pengembangan ProKlim Lambang Sari V menunjukkan bahwa upaya memperbaiki lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar sarana dan pelatihan. Pengetahuan, keterlibatan warga, pencatatan hasil, serta pengelolaan yang berkelanjutan menentukan apakah kegiatan yang dirintis dapat terus berjalan.

Bagi Yayuk dan anggota KWT Melati, tabungan dari penjualan keripik telah membantu mewujudkan sebuah mimpi. Bagi Lambang Sari V, pekerjaan berikutnya adalah memastikan usaha ekonomi dan kegiatan lingkungan yang telah dirintis terus tumbuh, melibatkan lebih banyak warga, dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Semoga! (*)

Penulis: Andi Indrayanto
Editor: Barkah


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Ilustrasi  harga sawit Riau periode 4–10 November 2026 turun (foto/int)Harga TBS Sawit Mitra Swadaya Riau Turun Rp10,36 per Kg, CPO Jadi Pemicu
Pemkab Kuansing siapkan digitalisasi aset daerah, 47 sertifikat tanah diserahkan BPN (foto/ultra)Amankan Aset Daerah, BPN Serahkan 47 Sertifikat Tanah ke Pemkab Kuansing
Erfan Effendi, pengurus KTNA Nasional dan Wakil Ketua Tani Merdeka Indonesia (TMI) Provinsi Riau (foto/ist)Erfan Effendi: MBG dan Strategi Dua Tangan Pemerintah RI
Ilustrasi harga emas Antam hari ini meroket (foto/int)Harga Emas Antam di Pekanbaru Naik Lagi, 1 Gram Kini Tembus Rp2,54 Juta
Ilustrasi hujan berpotensi meluas di Riau (foto/int)BMKG Prediksi Hujan Guyur Hampir Seluruh Riau Hari Ini, Waspada Angin Kencang
  Pemko Pekanbaru perketat pengawasan takaran BBM di SPBU (foto/ist)Disperindag Pekanbaru dan Pertamina Periksa Mesin Pompa BBM, Ini Hasilnya
Libatkan 12 perusahaan, penataan kabel fiber optik di Pekanbaru dimulai dari Jalan Paus (foto/ist)Kabel Semrawut Mulai Ditertibkan, Pemko Pekanbaru Targetkan Penataan Hingga Akhir 2026
Gerbang Tol Pekanbaru-Dumai dan Pekanbaru-Bangkinang bakal dinamai Sultan Muhammad Ali (foto/int)Disetujui Kementerian PU, Gerbang Tol di Pekanbaru Bakal Gunakan Nama Sultan Muhammad Ali
Bandara SSK II Pekanbaru menjadi pintu masuk favorit Wisman untuk berkunjung ke Riau (foto/int)Malaysia Masih Jadi Penyumbang Wisman Terbesar ke Riau
PSPS Pekanbaru.PSPS Pekanbaru Masih di Puncak, Tapi Ancaman PSMS Medan Semakin Nyata
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Pengumuman dan Penyerahan Penghargaan LKJ Raja Ali Kelana 2026
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved